Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan

Captain Underpants And The Invasion Of The Incredibly Naughty Cafeteria Ladies From Outer Space


Captain Underpants And The Invasion Of The Incredibly Naughty Cafeteria Ladies From Outer Space (And The Subsequent Assault Of The Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds)
Judul Indonesia: Kapten Klor Dan Penyerbuan Ibuibu Kafetaria Luar Angksa Yang Sangat Nakal (Dan Serangan Lanjan Oleh Zombie Kutu Buku Kafetaria Yang Sama Jahatnya)
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi & Lianita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 144 hlm


Di suatu malam yang tak berawan, sebuah benda berpijar membelah langit Piqua, Ohio. Selama beberapa detik benda itu bersinar sangat terang. Sampai akhirnya lenyap. Anehnya tak satupun tertangkap oleh warga sekitar. Bahkan keesokan harinya , tak satu pun dari murid-murid SD Jerome Horwitz yang memperhatikan. Padahal benda yang mirip pesawat luar angkasa itu berada di atap sekolah. Mungkin saja dikarenakan mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing . Termasuk George dan Harold yang sepagi itu memikirkan hal apa saja yang bisa mereka lalukan untuk membuat sesuatu yang disebut para guru sebagai kegaduhan

Lihat saja kekacauan yang mereka timbulkan di kelas Mr Fyde, sang guru IPA. Ruang kelas dipenuhi oleh suara kucing yang mengeong dan geraman anjing. Siapa lagi kalau bukan ulah George dan Harold. Awalnya Mr Fyde berhasil meneruskan pelajaran dan berusaha untuk tidak memperdulikan suara yang dibuat oleh kedua anak itu. Namun semakin kuat Mr Fyde menutup telinga, suara yang mengganggu itu kembali terdengar. Sampai akhirnya Mr Fyde dibuat sangat senewen dan memutuskan untuk meninggalkan kelas dan menyudahi pelajaran lebih cepat dari biasanya. Bukannya kesal, seluruh isi kelas nampaknya menyukai apa yang dilakukan oleh George dan Harold. Satu hal yang membuat kedua anak ini memikirkan rencana lain yang mereka anggap lucu untuk dilakukan.

Sementara itu, di atap sekolah,benda yang akhirnya semakin jelas adalah sebuah pesawat luar angkasa ternyata berisi makhluk planet paling seram, paling jahat dan paling tak kenal ampun. Mereka adalah Zorx, Klax, dan Jeniffer. Tujuan mereka ke bumi tak lain tak bukan adalah untuk menguasai bumi. Sementara menyusun rencana, hal yang pertama mereka lakukan adalah mengamati semua hal yang terjadi di SD Jerome Horwitz.

Kesempatan dating ketika Ibu-ibu pengurus kafetaria sekolah mengundurkan diri. Tanpa membuang waktu mereka segera menyamar menjadi pengganti. Begitu mereka melamar sebagai pengurus kafetaria, Mr Krupp, kepala sekolah, yang saat itu sangat kebingungan segera mengiyakan. Mr Krupp tak sadar, ia baru saja member jalan bagi para monster untuk melakukan kekacauan. Dan lihat saja apa yang terjadi selanjutnya. Semua anak dan guru yang memakan masakan mereka dalam sekejap berubah menjadi Zombie kutu buku yang jahat.

Beruntung George dan Harold tidak termasuk dalam orang-orang yang berada dalam pengaruh mereka. Sehingga mereka bisa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui rencana busuk para monster. George dan Harold berusaha memberitahu Mr Krupp yang juga tidak berada dalam pengaruh sang monster. Sayang Mr Krupp menganggap semua kata-kata kedua anak itu hanya lelucon belaka. Sampai para monster mulai membuka kedok mereka.

George dan Harold benar-benar membutuhkan kehadiran Kapten Kolor.

**

Rasanya ini pertama kali saya memiliki buku dengan judul yang sangat panjang. Membacanya membuat saya sedikit tergelitik. Sayangnya jika dibanding buku sebelumnya, kisah George dan Harold kali ini kurang mengigit. Bahkan sampai di halaman terakhir saya tidak merasakan satu pun hal yang dapat membuat saya tertawa. Walau begitu ilustrasi di buku ini masih menjadi favorit saya. Apalagi kalau melihat ekspresi dari setiap tokoh terutama kedua anak laki-laki yang nampaknya tak pernah kehilangan ide untuk membuat hari-hari mereka di sekolah. Two thumbs for Dav Pilkey.

PS: Ada kejutan baru dari Kapten Kolor

Captain Underpants And The Attack od The Talking Toilets





Captain Underpants And The Attack od The Talking Toilets

Judul Indonesia: Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet

Penulis: Dav Pilkey

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: II, Januari 2010

Tebal: 144 hlm



Setiap ada kejadian aneh di sekolah, tak perlu berpikir keras untuk mengetahui siapa biang keladinya. Karena dapat dipastikan George dan Harold-lah yang bertanggung jawab. Begitulah anggapan Miss Ribble, Mr Meaner, Miss Anthrope, para guru mereka di SD Jerome Horwitz dan tak ketinggalan Mr. Krupp sang kepala sekolah. Mereka bahkan punya julukan untuk kedua anak laki-laki itu. Biang kerok , licik, bandit kriminal, dan beberapa kata yang tidak rasanya tidak pantas untuk ditulis dan diucapkan. Mereka memang benar-benar dibuat gemas oleh kelakuan George dan Harold.



Lihat saja tingkah mereka tahun lalu di Konvensi Invensi Tahun Pertama. Lomba karya ilmiah yang seharusnya jadi ajang unjuk kebolehan setiap siswa itu menjadi berantakan dengan insiden kursi lengket. Setiap kursi mereka olesi dengan lem jenis baru yang mereka ciptakan dari campuran semen karet dan jus jeruk murni tanpa air. Tidak hanya kepala sekolah namun semua orang di ruangan olah raga mendidih oleh amarah karenanya. Semua menjadi sangat kacau saat itu.



Sehingga tak heran kalau Konvensi Invensi Tahun Kedua kali ini George dan Harold tidak ijinkan untuk mengikuti perlombaan. Tak tanggung-tanggung, Mr Krupp menuliskan catatan kecil di poster pengumuman “ Perlombaan ini terbuka bagi semua murid kelas tiga dan empat, Kecuali George Beard dan Harold Hutchins”. Padahal hadiah untuk juara pertama kali ini adalah menjadi kepsek sehari. Hadiah yang sangat menggiurkan. Setidaknya bagi kedua anak laki-laki itu. Sayang, kesempatan tertutup bahkan sebelum mereka mencoba. Tidak hanya tak diijinkan untuk ikut perlombaan, saat perlombaan pun mereka dilarang keras untuk mendekati ruang olahraga. Oleh Mr Krupp mereka diharuskan berada di ruang belajar seharian penuh.



Mr Krupp berpikir tindakannya kali ini bisa membuat Konvensi kali ini berjalan lancar. Namun nampaknya kepala sekolah ini belum benar-benar mengenal George dan Harold. Karena mereka yang disebutnya bandit criminal ini tentu tidak pernah akan diam saja karena kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang. Rencana demi rencana telah tersusun rapi dalam benak mereka. Sayang George dan Harold sendiri tak pernah berpikir bahwa kekacauan yang mereka timbulkan kali ini sungguh berbahaya. Bukan hanya pasukan toilet cerewet yang siap menelan siapapun dihadapan mereka namun juga kemunculan sang Kapten Kolor.



~~



Masih dengan ilustrasi yang keren, George dan Harold kembali dengan cerita kenakalan mereka yang tidak kalah dengan buku sebelumnya. Bahkan dibanding buku mereka yang pertama, menurut saya buku kali ini jauh lebih seru dan lucu. Rasanya tidak sabar untuk melihat aksi mereka di buku berikutnya. Yang pastinya tidak kalah aneh.



Satu hal yang menarik dari buku ini adalah hasil penemuan-penemuan para siswa SD Jerome Horwitz yang membuat saya sungguh ingin memilikinya. Patsy 2000, nama yang diberikan sang penemu untuk alat yang ia buat. Tentu saja tidak akan saya tuliskan lebih jauh, alat seperti apa itu. Semua detail dalam buku akan lebih seru jika dibaca sendiri.

Glubbslyme


Glubbslyme

Judul Indonesia: Kodok Ajaib

Penulis: Jacqueline Wilson

Ilustrasi: Jane Cope

Ilustrasi Sampul: Nick Sharratt

Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Agustus 2009

Tebal: 152 hlm


Musim liburan kali ini tiba-tiba menjadi tidak seru. Jauh dari yang direncanakan Rebecca. Sarah, teman dekatnya ternyata lebih memilih untuk menghabiskan masa liburan bersama Mandy, anak perempuan yang tinggal tepat disamping rumah Sarah. Awalnya Rebecca berpikir mereka bertiga akan menjadi teman bermain yang mengasyikkan. Sayangnya, Mandy hanya ingin bermain bersama Sarah, tidak dengan anak perempuan yang dianggapnya hanya mengganggu mereka dengan ocehannya yang tidak penting.


Lihat saja ketika mereka bertiga mencoba berpiknik bersama sambil makan sandwich stroberi di taman yang berada dekat dengan sebuah kolam. Mandy dan Sarah sedang asyik mencoba lipstik pink. Rebecca yang tidak diijinkan untuk ikut mencoba menjadi bosan dibuatnya. Ia akhirnya berusaha untuk mengalihkan perhatian sarah dengan mulai bercerita bahwa kolam yang airnya keruh itu dulunya adalah kolam penyihir. Saat itu banyak orang-orang yang membenci para penyihir. Penyihir yang berhasil mereka tangkap dibenamkan di kolam tersebut. Alih-alih membuat Sarah percaya pada ceritanya, Rebecca malah mendapat cemooh dari Mandy bahkan dianggap konyol oleh Sarah. Oleh keduanya, Rebecca ditinggal sendirian, di saat ia mencoba untuk membuktikan kebenaran ceritanya dengan masuk ke dalam kolam.


Rebecca yang malang. Tidak hanya kehilangan Sarah, ia juga akhirnya terjebak di keruhnya air kolam. Air kolam yang awalnya hanya berada dibawah lutut, ternyata bertambah menjadi sepinggang ketika ia mulai melangkah lebih jauh. Mungkin kolam itu benar-benar dalam seperti yang diceritakan ayahnya. Dengan langkah tergesa, Rebecca berusaha mencapai pinggiran kolam. Ketika mencoba melangkah, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berlendir dan mencakar-cakar mencengkram kakinya.


Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai tepian kola dan akhirnya sadar sesuatu yang melekat dengan kuat dipergelangan kakinya tidak lain adalah seekor kodok bangkong. Sekali lihat setiap orang pasti akan bergindik. Kulitnya yang berbintil terlihat sangat menjijikan belum lagi dua mata yang melotot, ditambah dengan kemampuannya berbicara layaknya manusia. Glubbslyme, begitu ia menyebut namanya. Tak lupa ia menjelaskan kepada Rebecca bahwa ia dulunya adalah familiar seorang penyihir sungguhan yang hidupnya berakhir dengan menggenaskan di kolam tersebut.


Tak dinyana, Rebecca tak memiliki ketakutan sedikitpun terhadap Glubbslyme. Ia bahkan membawanya pulang. Bukan karena ketertarikan pada kemampuan sihir Glub.Kodok itulah yang meminta Rebecca untuk membawanya pulang. Awalnya sempat terbersit keraguan, namun mengingat ia telah melihat dengan mata kepala sendiri, kodok itu pasti bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengeringkan pakaiannya yang basah saat nyaris terbenam tadi. Setidaknya ia mendapatkan teman bicara dan tak akan merasa sepi. Selain itu ia juga bisa sedikit bermain-main dengan sihir yang dimiliki Glub. Sayangnya ia tak pernah tahu, Glub tak pernah main – main dengan sihir yang dimilikinya.

Seperti buku-buku Jacqueline Wilson yang bergenre fantasi, kisah ini juga terkesan ringan. Tidak perlu mengernyitkan kening untuk mengikuti alur dan setting yang rumit seperti banyak buku fantasi kebanyakan. Itu memang menjadi ciri khas Jacqueline. Tapi tetap asyik untuk dibaca. Tokoh Glubbslyme sang kodok adalah salah satu alasannya. Ia bisa sombong, angkuh dan lucu bahkan terkesan konyol dalam waktu yang bersamaan.


Keistimewaan lain dari buku ini adalah ilustrasi yang dipakai Jacqueline Wilson berbeda. Setelah mengecek di datanya tentang bukunya, illustratornya ternyata memang beda. Kalau buku-buku yang lain menggunakan gambar yang dibuat oleh Nick Sharratt, kali ini goresan tangan Jane Cope yang dipilih. Nick sendiri hanya kebagian menggambar sampul.

The Adventure of Captain Underpants


The Adventure of Captain Underpants
Judul Indonesia : Petualangan Kapten Kolor
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 128 hal

Kalau menyebut nama George Beard dan Harold Hutchins, setiap murid dan guru di SD Jerome Horwitz pasti langsung teringat dengan dua anak laki laki paling iseng dan konyol. Tak satu pun yang lilos dari pandangan mata mereka. Teman sekelas, pemandu sorak, anggota marching band, para pemain football bahkan guru sekalipin menjadi sasaran keusilan mereka. Sehingga jika terjadi sesuatu dapat dipastikan dua anak laki-laki yang bersahabat sejak kecil itu yang bertanggung jawab. Setidaknya seperti itulah anggapan Mr Krupp, kepala sekolah mereka yang galak.

Tidak ada keinginan terbesar dari Mr Krupp selain menangkap basah kedua anak bandel itu. Apalagi ketika tahu bahwa George dan Harold mulai memperdagangkan komik-komik buatan mereka yang diberi judul Kapten Kolor. Sebenarnya Mr Krupp tidak hanya membenci George dan Harold karena pada dasarnya pria ini memang tak menyukai anak – anak. Teriakan mereka membuatnya gerah.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang. Mr Krupp berhasil memergoki mereka saat keduanya tengah beraksi. George dan Harold tak dapat mengelak, karena semuanya terekan dengan rapi dalam sebuah kaset video. Ternyata Mr Krupp telah menyiapkan beberapa kamera tersembunyi di beberapa tempat.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Mr Krupp pun mulai melancarkan aturan demi aturan. Dengan ancaman akan menyebarkan rekaman itu bila keduanya mangkir. Tidak ada pilihan lain bagi kedua anak itu selain memulai rutinitas baru dengan membersihkan apapu di rumah Mr Krupp, ruang kerjanya di sekolah sampai menghabiskan setumpuk buku yang harus mereka baca setelah pulang sekolah.

Namun bukan George dan Harold jika kehabisan ide. Dengan sebuah cincin hipnotis 3-D yang dipesannya di toko Perhiasan Si Cebol Sok Tahu. Segera setelah benda itu berada di tangan, mereka berhasil membalikan keadaan. Tak hanya berhasil merebut rekaman, namun mereka tak menyia-nyiakan ketika Mr Krupp berada dalam keadaan terhipnotis. Tak ayal, mereka menyuruh Mr Krupp meniru Kapten Kolor, tokoh utama komik buatan mereka. Sayangnya mereka membuat kecerobohan, Mr Krupp yang masih berkostum sang Kapten ternyata kabur keluar sekolah saat mereka lengah. Kenakalan mereka kali ini sungguh mendatangkan masalah yang jauh lebih besar

**
Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi memang punya daya tarik tersendiri. Itu yang membuat saya menyukai buku ini. Kenakalan George dan Harold jadi lebih nyata.

Edgar & Ellen : Nod’s Limbs



Penulis :Charles Ogden

Penerjemah: Gunawan Wijaya

Penerbit: Matahati

Cetakan: I, April 2009

Tebal : 262 hlm



Pet sekarat!. Gigitan Morella ternyata berdampak sangat buruk. Rambut-rambut Pet mulai berjatuhan. Pergerakannya semakin lemah. Sayangnya, balsam sebagai satu-satunya obat penawar tertimbun jauh di dalam tanah berlapis tebal akibat ledakan yang terjadi akibat ketidaksengajaan Edgar.



Tak ada balsam berarti selamat tinggal bagi Pet. Menggali timbunan menjadi satu-satunya cara untuk mencapai sumber balsam. Sayang usaha Edgar dan Ellen tak membuahkan hasil. Timbunan tanah terlalu tebal. Tenaga mereka berdua tak cukup besar untuk menembusnya. Padahal waktu yang tersisa semakin sedikit. Mereka nyaris dibuat putus asa karenanya sampai ketika terdengar kabar ditemukannya surat wasiat August Nod.



Di carikan kertas itu, pendiri kota akan memberikan potongan tubuh patung emas kepada siapa pun yang bisa menemukannya. Potongan tubuh itu terletak di suatu tempat yang hanya diketahui oleh Augustus Nod. Warga kota Nod’s Limbs petunjuk yang yang sangat minim. Tapi itu tak menyurutkan semangat mereka memulai pemburuan. Kesempatan yang bisa membuat semua orang menjadi kaya mendadak ini tak dilewatkan oleh siapa pun termasuk si kembar beracun. Patung emas yang mereka temukan tidak hanya untuk menyelamatkan Pet namun juga rumah mereka.



Edgar dan Ellen harus bergegas karena Pet tak dapat menunggu lebih lama.



~~~

Bukunya lumayan seru. Di buku ini terungkap beberapa rahasia kelam kota Nod’s Limbs, karena beberapa kejutan besar. Belum lagi akhirnya yang menyenangkan. Walau tetap saja masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang tidak terjawab. Buku-buku baru yang berisi petualangan Edgar dan Ellen sebenarnya masih ada beberapa, seperti Hot Air, Frost Bite, Splint Ends bahkan ada Mischief Manual, buku yang menjadikan Edgar dan Ellen sebagai narator. Sayangnya tidak ada kabar dari penerbit Matahati.

Keluarga Flood: Tetangga Culun



Keluarga Flood: Tetangga Culun

Judul Asli: Te Floods #4:

Penulis: Colin Thompson

Penerjemah: Ferry halim

Penyunting: Indah Nurchaidah

Penerbit: Atria

Cetakan: I, Januari 2009

Tebal: 218 hlm



“Kalau kamu belum membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama, kamu mungkin merasa seperti pencundang sejati, yang tentu saja memang benar. Namun, hari ini merupakan hari keberuntunganmu karena ada cara untuk berhenti menjadi pecundang dan mulai menjalani hidup secara utuh serta fantastis. Yang perlu kamu lakukan hanyalah membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama.”

(Colin Thompson –Tetangga Culun hlm 1)



Dari ke empat buku Keluarga Flood yang telah terbit, ini adalah seri favorit saya. Ceritanya tidak segelap buku - buku sebelumnya. Di sini juga tidak lagi menggambarkan sisi gelap Keluarga Flood. Malah sebaliknya. Lihat saja bagaimana sikap Morodonna dan Betty pada tetangga baru mereka.



Keluarga baru itu pindah ke Acacaia Avenue nomor 19. Keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dua orang anak. Dari hasil pengamatan Mordonna dan Betty dari jauh maupun dekat mereka terlihat sangat culun dan membosankan. Namun begitu mengetahui bahwa salah satu anak perempuan itu seusia dengan Betty, keluarga itu tiba – tiba menjadi sangat menarik. Betty memang telah lama menunggu seseorang yang seusianya yang dapat diajak bermain



Setelah puas melakukan pengamatan diam – diam, Mordonna dan Betty pun memulai kunjungan pertama mereka ke rumah tetangga baru mereka. Keluarga baru itu bernama Keluarga Hulbert. Sedangkan anak perempuan yang seusia dengan Betty bernama Ffiona. Dari hasil penjelasan Mrs Hulbert, ternyata ada sejarah dibalik nama Ffiona. Untuk saja hal yang sama tidak terjadi pada Claude, adik bayi laki – lakinya.



Sementara Mordonna menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Mrs Hulbert, Ffiona mengajak Betty bermain di kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk menjadi akrab. Cerita demi cerita bahkan yang rahasia sekali pun mengalir dari keduanya.



Dari cerita Ffiona, Betty tahu alasan mengapa keluarga mereka pindah ke Acacia Avenue. Salah satunya adalah hal – hal buruk yang terjadi pada Ffiona di sekolahnya dulu. Bukan hanya sekali tapi berkali – kali. Sedangkan dari cerita Betty, ia tahu bahwa Keluarga Flood adalah keluarga penyihir.



Hari demi hari mereka berdua semakin akrab. Tidak hanya menunjukkan kekuatan sihir yang sayangnya lebih banyak gagal, Ffiona pun diajak berkenalan dengan seluruh anggota Keluarga Flood yang lain. Ffiona benar- benar disambut dengan baik. Bahkan menarik perhatian dua anak kembar Flood.



Sampai ketika waktu masuk sekolah tiba. Hari pertama yang selalu menyisakan trauma bagi Ffiona. Betty yang merasakan ketakutan sahabatnya, berjanji tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuhnya.

Di lain pihak, hari pertama sekolah ternyata disambut baik biang kerok yang paling terkenal di Sekolah Sunnyview, Bridie McTart, mulai bertingkah. Bridie Mc Tart memang tak mengganggu Betty, tapi sayangnya tidak benar – benar membuka matanya, korban yang dipilihnya kali ini adalah Ffiona. Sehingga saat Bridie mulai bertindak, balasan setimpal pun dalam sekejap didapatkannya.



Tidak hanya Ffiona, masalah –masalah yang dihadapi Mr dan mrs Hulbert pun diatasi dengan mudah. Tentu saja dengan sedikit bantuan sihir Keluarga Flood. Sehingga kini tidak ada lagi kata culun ataupun membosankan. Bagaimana perubahan Keluara Hulbert? Tentunya hanya bisa terjawab ketika membaca buku ini dari awal sampai akhir.



Seperti warna sampul yang sangat cerah, buku ini juga berakhir dengan hal – hal yang menyenangkan. Senang rasanya membaca buku Keluarga Flood kali ini.



Satu yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah kalimat – kalimat Pak Colin mengenai Belgia. Banyak di dalam bab – bab di buku ke empat ini yang menuliskan betapa ia tidak menyukai negara yang satu ini. sayangnya hingga saat ini tidak ada keterangan yang dapat menceritakan mengapa penulis nyentrik ini membenci neara yang beribu kota Brussel itu. Sebenarnya bukan kali ini saja, di buku – buku sebelumnya juga seperti itu. Sayang di website miliknya juga tidak ada keterangan apapun. Mungkin ada alasan tertentu yang tidak dapat diungkap ke publik. Entahlah.

Keluarga Flood: Asal Usul Keluarga Flood



Keluarga Flood: Asal Usul Keluarga Flood

Judul Asli: The Floods#3: Home & Away

Penulis: Colin Thompson

Penerjemah: Ferry Salim

Penerbit: Atria

Cetakan: II, Agustus 2007

Tebal: 246 hlm



Kali ini Pak Collin, sang penulis sekaligus narator mengajak kita ke masa lalu Keluarga Flood. Dari latar belakang kehidupan Mordonna dan Nerlin, bagaimana mereka bertemu , jatuh cinta, menikah , memiliki anak-anak yang aneh sampai akhirnya pindah ke Acacia Avenue nomor 13.



Walau hidup sebagai ibu rumah tangga di lingkungan yang biasa – biasa saja, ternyata dulunya Mordonna adalah seorang putri dari kerajaan Transylvania Waters. Ayahnya adalah seorang Raja yang sangat berkuasa. Tidak seorang pun yang berani menentang perintah Raja Nombre – Sept-A-Quatorze kecuali kalau mereka mau kehilangan nyawa.



Hidup sebagai putri ternyata tidak menyenangkan bagi Mordonna. Tidak ada kebebasan baginya. Oleh Raja Quatorze, Mordonna ditawan di sebuah kastil yang seluruh gerbangnya dikunci dan dijaga dua Cyclops (raksasa bermata satu). Mordonna menjadi sangat kesepian.



Mengapa sampai ayahnyasendiri tega melakukan hal tersebut? Tidak lain karena Raja Quatorze tidak ingin Mordonna bertemu dengan pria-pria yang tidak memiliki apa – apa. Raja Quatorze memang serakah. Ia hanya menginginkan harta milik menantinya. Sehingga wajar saja kalau Raja menyewa banyak agen untuk menemukan Pangeran kaya raya. Mordonna dibuat kesal karenanya. Sayang ibunya, Ratu Scratchrot tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan ambisi suaminya.



Tidak banyak yang dilakukan oleh Mordonna untuk lepas dari semua belenggu itu, sampai suatu hari. Dengan bantuan Leach, burung bangkai raksasa yang peliharaannya sejak kecil, Mordonna dibawanya keluar istana menuju sebuah jalan setapak di belakang sederetan gubuk. Disuruhnya Mordonna menggali tanah. Awalnya mordonna menolak, namun karena tahu bahwa itu satu – satunya jalan untuk melarikan diri, tanpa mempedulikan kukunya, Mordonna pun memulai penggalian.



Entah berapa lama waktu yang dihabiskan Mordonna untuk menggali. Yang jelas tanah di bawah kakinya tiba – tib aruntuh dan ia jatuh ke lubang gelap dan dalam. Bukan kebetulan, di dasar lubang yang sama, ternyata Nerlin muda sedang membersihkan saluran air. Tak butuh waktu lama untuk membuat Nerlin jatuh cinta pada Mordonna yang saat itu adalah penyihir paling cantik di Transylvania Waters.Bak gayung bersambut, Mordonna pun ternyata merasakan hal yang sama.



Sayangnya Nerlin bukanlah pangeran yang dicari-cari oleh Raja Quatorze. Sehingga Mordonna tahu bahwa kisah cinta mereka tidak akan pernah mendapat restu dari beliau. Sehingga satu – satunya cara adalah melarikan diri ke suatu tempat yang jauh.. Walau tahu penuh resiko, namun keduanya sepakat untuk menjalani kehidupan mereka berdua. Perjalanan jauh yang benar- benar melelahkan.



Mengetahui semua hal yang dilakukan Mordonna, Raja Quatorze menjadi sangat murka. Mata –mata paling kejam di dunia pun dipanggilnya untuk memulai pengejaran.



Rasanya menyenangkan membaca rahasia – rahasia masa lalu Keluarga Flood.Bahkan proses kelahiran Valla sampai Betty terungkap di sini. Sampai pemilihan tempat tinggal mereka di Acacia Avenue pun ternyata memiliki alasan tertentu.



Satu hal yang baru dibuku ini adalah saya mulai bisa tersenyum bahkan tertawa kecil ketika membaca bab – bab di buku ini. selera humor Pak Collin kali ini sedikit lebih baik.

Model Artis Terseksi

Info Wanita

Galeri Foto Artis

Wanita Idola