Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan

Captain Underpants And The Invasion Of The Incredibly Naughty Cafeteria Ladies From Outer Space


Captain Underpants And The Invasion Of The Incredibly Naughty Cafeteria Ladies From Outer Space (And The Subsequent Assault Of The Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds)
Judul Indonesia: Kapten Klor Dan Penyerbuan Ibuibu Kafetaria Luar Angksa Yang Sangat Nakal (Dan Serangan Lanjan Oleh Zombie Kutu Buku Kafetaria Yang Sama Jahatnya)
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi & Lianita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 144 hlm


Di suatu malam yang tak berawan, sebuah benda berpijar membelah langit Piqua, Ohio. Selama beberapa detik benda itu bersinar sangat terang. Sampai akhirnya lenyap. Anehnya tak satupun tertangkap oleh warga sekitar. Bahkan keesokan harinya , tak satu pun dari murid-murid SD Jerome Horwitz yang memperhatikan. Padahal benda yang mirip pesawat luar angkasa itu berada di atap sekolah. Mungkin saja dikarenakan mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing . Termasuk George dan Harold yang sepagi itu memikirkan hal apa saja yang bisa mereka lalukan untuk membuat sesuatu yang disebut para guru sebagai kegaduhan

Lihat saja kekacauan yang mereka timbulkan di kelas Mr Fyde, sang guru IPA. Ruang kelas dipenuhi oleh suara kucing yang mengeong dan geraman anjing. Siapa lagi kalau bukan ulah George dan Harold. Awalnya Mr Fyde berhasil meneruskan pelajaran dan berusaha untuk tidak memperdulikan suara yang dibuat oleh kedua anak itu. Namun semakin kuat Mr Fyde menutup telinga, suara yang mengganggu itu kembali terdengar. Sampai akhirnya Mr Fyde dibuat sangat senewen dan memutuskan untuk meninggalkan kelas dan menyudahi pelajaran lebih cepat dari biasanya. Bukannya kesal, seluruh isi kelas nampaknya menyukai apa yang dilakukan oleh George dan Harold. Satu hal yang membuat kedua anak ini memikirkan rencana lain yang mereka anggap lucu untuk dilakukan.

Sementara itu, di atap sekolah,benda yang akhirnya semakin jelas adalah sebuah pesawat luar angkasa ternyata berisi makhluk planet paling seram, paling jahat dan paling tak kenal ampun. Mereka adalah Zorx, Klax, dan Jeniffer. Tujuan mereka ke bumi tak lain tak bukan adalah untuk menguasai bumi. Sementara menyusun rencana, hal yang pertama mereka lakukan adalah mengamati semua hal yang terjadi di SD Jerome Horwitz.

Kesempatan dating ketika Ibu-ibu pengurus kafetaria sekolah mengundurkan diri. Tanpa membuang waktu mereka segera menyamar menjadi pengganti. Begitu mereka melamar sebagai pengurus kafetaria, Mr Krupp, kepala sekolah, yang saat itu sangat kebingungan segera mengiyakan. Mr Krupp tak sadar, ia baru saja member jalan bagi para monster untuk melakukan kekacauan. Dan lihat saja apa yang terjadi selanjutnya. Semua anak dan guru yang memakan masakan mereka dalam sekejap berubah menjadi Zombie kutu buku yang jahat.

Beruntung George dan Harold tidak termasuk dalam orang-orang yang berada dalam pengaruh mereka. Sehingga mereka bisa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui rencana busuk para monster. George dan Harold berusaha memberitahu Mr Krupp yang juga tidak berada dalam pengaruh sang monster. Sayang Mr Krupp menganggap semua kata-kata kedua anak itu hanya lelucon belaka. Sampai para monster mulai membuka kedok mereka.

George dan Harold benar-benar membutuhkan kehadiran Kapten Kolor.

**

Rasanya ini pertama kali saya memiliki buku dengan judul yang sangat panjang. Membacanya membuat saya sedikit tergelitik. Sayangnya jika dibanding buku sebelumnya, kisah George dan Harold kali ini kurang mengigit. Bahkan sampai di halaman terakhir saya tidak merasakan satu pun hal yang dapat membuat saya tertawa. Walau begitu ilustrasi di buku ini masih menjadi favorit saya. Apalagi kalau melihat ekspresi dari setiap tokoh terutama kedua anak laki-laki yang nampaknya tak pernah kehilangan ide untuk membuat hari-hari mereka di sekolah. Two thumbs for Dav Pilkey.

PS: Ada kejutan baru dari Kapten Kolor

Joshua Joshua Tango


Joshua Joshua Tango
Penulis: Robert Wolfe
Penerjemah: Monique Soesman dan Maya Sutedja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 384 hlm

Hidup Marcel Groen beberapa tahun belakangan memang bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak ditinggal ibunya ke india, ia harus hidup dengan kasih sayang seorang ayah yang sangat sibuk dengan penelitiannya. Semua makin parah dengan kedatangan Meurouw Kramps. Awalnya wanita yang berprofesi sebagai pekerja sosial itu datang untuk memberi konsultasi. Namun akhirnya ia lebih sering ikut campur dalam kehidupan Marcel dan ayahnya. Yang mengesalkan, Kramps sering sekali menyudutkan Marcel. Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Tak heran jika Marcel tak menyukai wanita yang semakin lama semakin sering berkeliaran di rumah Marcel.

Di sekolah, ternyata tidak kalah buruknya. Marcel selalu jadi bulan-bulanan. Nampaknya tak seorang pun yang mau jadi temannya. Yang membuatnya sangat sedih, ia tak pernah sekalipun diajak untuk bermain. Bahkan ketika tim sepakbola sekolahnya kekurangan orang. Marcel jadi sakit hati dibuatnya. Selama ini ia memang hanya sering mencobanya lewat game di komputer. Tapi Marcel sungguh-sungguh ingin bermain.

Tak berhenti sampai di situ,ada dua anak laki-laki yang selalu mengerjai Marcel setiap pulang sekolah menjadikan dunia semakin tidak ramah. Bagi Ed dan Luc, Marcel adalah mangsa empuk untuk ditonjok dan dihajar dengan pitingan judo yang mereka ciptakan sendiri. Pernah suatu kali, mereka berhasil melemparkan Marcel ke sungai. Kemalangan yang membuat Marcel harus menghindari kedua bersaudara penuh racun itu.

Sampai suatu hari, Professor Groen, Ayah Joshua, membawa pulang seekor kura-kura raksasa, yang panjangnya lebih dari 1 meter. Tidak hanya dari ukurannya yang membuat Marcel terkejut namun juga karena mengetahui bahwa kura-kura Brasil itu diam-diam bisa berbicara. Walau hanya kepada dirinya.

Namun tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan rasa canggung. Dalam waktu singkat, Marcel dan Joshua menjadi sangat akrab. Tak ada lagi Marcel yang kesepian karena kini hari-harinya menjadi lebih menyenangkan. Bersama Joshua, Marcel melakukan banyak hal seru. Ia juga belajar banyak hal dari binatang yang sangat menyukai milkshake cacing. Walau mereka harus melakukannya secara diam-diam. Karena setiap gerak-gerik Joshua diamati oleh sang Professor.

Tak tanggung-tanggung, sebuah Neuromatascanner, sebuah sensor, di gunakan untuk mengetahui aktivitas otak kura-kura yang ditubuhnya dipenuhi warna hijau, cokleat, garis kuning di mana-mana serta titik – titik berwarna biru muda. Namun itu bukan masalah besar yang menghalangi Joshua dan Marcel untuk bersenang-senang.

~~

Menyesal rasanya baru membaca buku ini sekarang. Padahal saya telah memilikinya sejak dua tahun silam.Buku ini memang diperuntukan untuk anak-anak, namun tetap seru untuk dinikmati oleh siapa pun, tak terkecuali orang dewasa. Bahkan ketika buku ini dipenuhi dengan begitu banyak typo, saya tidak merasa terganggu sama sekali. Karena kesalahan yang satu ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri.

Walau agak sedikit bingung ketika berhadapan dengan bab yang membahas tentang pertandingan sepak bola yang diikuti oleh Marcel,banyak hal yang membuat saya memilih untuk menuntaskannya sampai akhir. Salah satunya adalah tingkah dan ucapan Joshua yang lucu, yang membuat saya tak dapat menahan tawa. Padahal awalnya kura-kura yang satu ini terlihat sangat konyol. Tak hanya lucu, terkadang ada kata-kata Joshua yang membuat saya terenyuh.Tidak salah menjadi buku ini jadi salah satu koleksi.

Dead Until Dark

Dead Until Dark

Penulis: Charlaine Harris

Penerjemah: Pujia Pernami

Editor: Alika Chandra & Ary Nilandari

Penerbit: Kantera

Cetakan: I, 2010

Tebal: 402 hlm



Satu lagi buku yang bercerita tentang vampir. Berbeda dengan buku yang juga mengangkat tema yang sama, keberadaan mahkluk malam penghisap darah ini tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya mereka dengan mudah masuk dan berbaur dalam kehidupan manusia. Semua itu dikarenakan satu penemuan muktahir di Jepang berupa darah sintetis. Yang memungkinkan para vampir bertahan hidup tanpa harus menjadikan manusia sebagai mangsa mereka.



4 tahun sudah sejak darah sintetis itu dijual bebas di pasaran. Para vampir bebas berkeliaran. Selama itu pula Sookie Stackhouse kedatangan seorang vampir di kotanya, Bon Temps.



Siapa Sookie?

Wanita muda cantik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan kini bekerja sebagai pelayan di Bar Merlotte. Dari luar Sookie nampak seperti perempuan berambut pirang lainnya. Walau sebenarnya ia jauh lebih cerdas dari apa yang orang –orang pikirkan. Toh hampir semua orang telah menyisipkan kata “gila” menjadi nama tengahnya.



Semua itu hanya karena kelebihan yang lebih sering disebutnya kelainan yang ia miliki.Sookie dengan mudah mengetahui apa saja yang terlintas dibenak orang lain. Di luar sana mungkin banyak yang berpikir bahwa hal itu merupakan sesuatu yang hebat. Namun tidak demikian dengan Sookie. Ia bahkan berharap tak pernah memilikinya. Karena kelebihan ini lebih sering membuat merasa kelelahan. Bagaimana tidak, Sookie harus berusaha keras untuk menghalangi setiap suara dari pikiran orang lain yang biasanya datang seperti serangan bertubi-tubi.



Tak hanya itu, kemampuannya ini berdampak besar di kehidupan sosialnya. Cap “gila” yang dibubuhkan padanya,jangankan berkencan, teman dekat pun Sookie tak punya. Beruntung masih ada segelintir orang yang tidak berpikiran seperti kebanyakan orang di kota itu. Adalah Adele, neneknya dan Sam, bos pemilik Bar Merlotte’s.



Mimpi yang menjadi nyata

Tak ada pertanda khusus yang didapatkan Sookie, saat seorang pria melangkahkan kakinya di Merlotte’s malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Sookie untuk mengetahui bahwa pria berwajah sangat pucat itu adalah vampir.



Keberuntungan nampaknya mengelilingi wanita bermata biru ini. Karena vampir itu memutuskan untuk duduk di meja yang menjadi tanggung jawabnya. Satu hal yang membuatnya nyaris memeking girang adalah ketika mengetahui pikiran pria itu tak dapat dibacanya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus kenyataan yang membuat Sookie ingin mengenal lebih jauh pria yang mengenalkan dirinya sebagai Bill Compton.



Bersamaan dengan itu,peristiwa pembunuhan terjadi di Bon Temps. Tak hanya satu, dua, tiga, tapi empat pembunuhan terjadi. Tak banyak bukti yang membuat para warga Bon Temps menjadi tersangka. Namun Sherrif dan seorang detektif mulai membuat list orang –orang yang patut dicurigai. Yang membuat Sookie sangat terkejut adalah ketika mengetahui orang-orang terdekatnyalah yang masuk dalam list tersebut.



Tak tinggal diam, Sookie berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang membuat teror berkepanjangan bagi setiap warga Bon Temps ini. Walau membuatnya harus melibatkan diri ke tempat-tempat yang cukup berbahaya. Tidak hanya harus berpacu dengan waktu, ia juga harus ekstra hati-hati, karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga mengincar dirinya.



~~



Seru! Satu kata untuk buku ini. Tak terasa buku dengan jumlah 402 halaman itu selesai begitu saja. Walau cover buku ini sedikit membuat saya kecewa begitu melihatnya pertama kali, tapi tidak mengurangi asyiknya kisah buku tentang vampire yang satu ini. Tak heran jika HBO akhirnya mengadaptasinya menjadi serial tv dengan judul True Blood.



Rasanya tak sabar menunggu buku kedua. Walau tidak lagi diterbitkan oleh penerbit Kantera, saya berharap hasil terjemahan buku berikutnya tidak kalah dengan buku pertama.

Sebastian Darke: Prince of Fools


Sebastian Darke: Prince of Fools
Penulis: Philip Caveney
Penerjemah: Aan
Editor: Fransisca Goenarso
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 356 hlm

Alexander adalah seorang pelawak kawakan di kerajaan Cletus. Semua lelucon, sindiran dan ceritanya mampu membuat ruangan istana penuh dengan ledakan tawa. Tak heran dengan kemampuannya itu, ia sanggup member kemewahan kepada istri dan Sebastian,anak laki-lakinya.

Sayangnya keadaan itu hanya terjadi beberapa tahun. Raja Cletus mangka dan diganti dengan putranya Daniel yang ternyata tak mewarisi sedikitpun selera humor ayahnya. Sehingga tak perlu heran jika Alexander kehilangan pekerjaan dan semua kemewahan yang didapatkannya selama ini. Kehidupan keluarga kecil itu pun berubah drastis. Walau telah mencoba untuk memulai peruntungan di kedai-kedai minuman ataupun di gedung teater music, ternyata pendapatannya tak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sampai suatu hari, ia mendengar kabar tentang kebaikan Raja Septimus, pemimpin tertinggi kota Keladon. Alexander tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia berniat untuk menawarkan jasanya. Tak peduli jarak yang akan ditempuhnya. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Termasuk berlatih berhari-hari tanpa henti, siang dan malam. Saking seriusnya, Alexander lupa akan kesehatannya sendiri. Suatu pagi, ia ditemukan oleh istrinya tergeletak pingsan.Pria yang menikahi seoran peri itu teresang demam tinggi. Malang bagi ketiganya, demam itu tak kunjung sembuh dan parahnya membawa Alexander pada kematian.

Sepeninggalan sang ayahnya, Sebastian merasa tanggung jawab akan keberlangsungan keluarga berasa di tangannya. Tak ada profesi yang terpikir selain mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang pelawak. Sayang, tak sedikitpun bakat sang ayang yang mengalir dalam daram Sebastian. Bukannya lucu, lelucon yang dilontarkannya cenderung membosankan. Tak peduli kemampuannya menghafalkan semua lelucon-lelucon dengan sangat baik. Dan Sebastian sadar betul akan hal itu.

Namun keadaanlah yang membuat Sebastian nekat untuk melanjutkan rencana ayahnya untuk mengadu nasib di kota Keladon. Walau tahu bahwa perjalanan ini sangat berbahaya. Bersama Max, Buffalope miliknya, ia pun memulai perjalanan.

Perjalanan yang mereka tempuh terasa sangat melelahkan. Bekal persediaan yang dibawanya semakin menipis. Dan sialnya mereka diserang kawanan Luper liar yang nyaris membuat nyawa mereka melayang. Beruntung, mereka di tolong oleh Golmra Corlnelius , kesatria ahli tempur, yang ternyata juga hendak mengadu nasib di kota yang sama.

Setelah saling mengenal, akhirnya mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dan menjemput mimpi. Dengan harapan akan terjadi perubahan nasib. Sayangnya, mereka tak tahu bahwa bahaya yang tak sesungguhnya sedang menunggu di sana.

~~
Untuk buku yang mengkategorikan dirinya dalam genre fantasi, buku ini kekurangan banyak bumbu. Terlepas dari mahkluk-makhluk ajaib sang Bufaloppe, buku ini sangat miskin akan unsur magis. Jadi pembaca yang benar-benar menyukai buku fantasi tak bisa berharap banyak

Namun satu kelebihan buku yang telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa asing dan mendapat beberapa penghargaan seperti Waterstone Children’s Book, Stockholm Prize dan Coventry Inspiration Book award adalah sisi humor yang sangat tebal. Saya benar-benar terhibur setiap kali membaca semua percakapan yang melibatkan Max di dalamnya. Binatang peliharaan Sebastian ini sungguh kocak. Bahkan sempat terpikir seharusnya Max lah yang berdiri di atas panggung.

Glubbslyme


Glubbslyme

Judul Indonesia: Kodok Ajaib

Penulis: Jacqueline Wilson

Ilustrasi: Jane Cope

Ilustrasi Sampul: Nick Sharratt

Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Agustus 2009

Tebal: 152 hlm


Musim liburan kali ini tiba-tiba menjadi tidak seru. Jauh dari yang direncanakan Rebecca. Sarah, teman dekatnya ternyata lebih memilih untuk menghabiskan masa liburan bersama Mandy, anak perempuan yang tinggal tepat disamping rumah Sarah. Awalnya Rebecca berpikir mereka bertiga akan menjadi teman bermain yang mengasyikkan. Sayangnya, Mandy hanya ingin bermain bersama Sarah, tidak dengan anak perempuan yang dianggapnya hanya mengganggu mereka dengan ocehannya yang tidak penting.


Lihat saja ketika mereka bertiga mencoba berpiknik bersama sambil makan sandwich stroberi di taman yang berada dekat dengan sebuah kolam. Mandy dan Sarah sedang asyik mencoba lipstik pink. Rebecca yang tidak diijinkan untuk ikut mencoba menjadi bosan dibuatnya. Ia akhirnya berusaha untuk mengalihkan perhatian sarah dengan mulai bercerita bahwa kolam yang airnya keruh itu dulunya adalah kolam penyihir. Saat itu banyak orang-orang yang membenci para penyihir. Penyihir yang berhasil mereka tangkap dibenamkan di kolam tersebut. Alih-alih membuat Sarah percaya pada ceritanya, Rebecca malah mendapat cemooh dari Mandy bahkan dianggap konyol oleh Sarah. Oleh keduanya, Rebecca ditinggal sendirian, di saat ia mencoba untuk membuktikan kebenaran ceritanya dengan masuk ke dalam kolam.


Rebecca yang malang. Tidak hanya kehilangan Sarah, ia juga akhirnya terjebak di keruhnya air kolam. Air kolam yang awalnya hanya berada dibawah lutut, ternyata bertambah menjadi sepinggang ketika ia mulai melangkah lebih jauh. Mungkin kolam itu benar-benar dalam seperti yang diceritakan ayahnya. Dengan langkah tergesa, Rebecca berusaha mencapai pinggiran kolam. Ketika mencoba melangkah, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berlendir dan mencakar-cakar mencengkram kakinya.


Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai tepian kola dan akhirnya sadar sesuatu yang melekat dengan kuat dipergelangan kakinya tidak lain adalah seekor kodok bangkong. Sekali lihat setiap orang pasti akan bergindik. Kulitnya yang berbintil terlihat sangat menjijikan belum lagi dua mata yang melotot, ditambah dengan kemampuannya berbicara layaknya manusia. Glubbslyme, begitu ia menyebut namanya. Tak lupa ia menjelaskan kepada Rebecca bahwa ia dulunya adalah familiar seorang penyihir sungguhan yang hidupnya berakhir dengan menggenaskan di kolam tersebut.


Tak dinyana, Rebecca tak memiliki ketakutan sedikitpun terhadap Glubbslyme. Ia bahkan membawanya pulang. Bukan karena ketertarikan pada kemampuan sihir Glub.Kodok itulah yang meminta Rebecca untuk membawanya pulang. Awalnya sempat terbersit keraguan, namun mengingat ia telah melihat dengan mata kepala sendiri, kodok itu pasti bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengeringkan pakaiannya yang basah saat nyaris terbenam tadi. Setidaknya ia mendapatkan teman bicara dan tak akan merasa sepi. Selain itu ia juga bisa sedikit bermain-main dengan sihir yang dimiliki Glub. Sayangnya ia tak pernah tahu, Glub tak pernah main – main dengan sihir yang dimilikinya.

Seperti buku-buku Jacqueline Wilson yang bergenre fantasi, kisah ini juga terkesan ringan. Tidak perlu mengernyitkan kening untuk mengikuti alur dan setting yang rumit seperti banyak buku fantasi kebanyakan. Itu memang menjadi ciri khas Jacqueline. Tapi tetap asyik untuk dibaca. Tokoh Glubbslyme sang kodok adalah salah satu alasannya. Ia bisa sombong, angkuh dan lucu bahkan terkesan konyol dalam waktu yang bersamaan.


Keistimewaan lain dari buku ini adalah ilustrasi yang dipakai Jacqueline Wilson berbeda. Setelah mengecek di datanya tentang bukunya, illustratornya ternyata memang beda. Kalau buku-buku yang lain menggunakan gambar yang dibuat oleh Nick Sharratt, kali ini goresan tangan Jane Cope yang dipilih. Nick sendiri hanya kebagian menggambar sampul.

The Highest Tide


The Highest Tide

Judul Indonesia: Pasang Laut

Penulis: Jim Lynch

Penerjemah: Arif Subiyanto

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Desember 2006

Tebal: 328 hlm

Seperti malam-malam sebelumnya, Miles O’Malley melakukan ritualnya menyusuri paya asin. Kegiatan yang kerap ia lakukan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Miles menyelinap keluar setelah memastikan keduanya terlelap. Sekop kecil, ransel dan kantong plastik tak pernah lupa dibawanya. Benda-benda itulah yang membantu Miles mengumpulkan dan menampung binatang –binatang laut yang ia temukan. Dengan kayak miliknya, dengan leluasa Miles menjelajahi perairan Puget Sound.


Kegiatan mengumpulkan binatang laut yang membuat insomnianya semakin parah bukan tanpa tujuan. Beberapa lembar dollar adalah bayaran yang akan ia terima begitu bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk lain berpindah tangan. Makelar aquarium dan salah satu restoran di Olympia adalah pelanggan tetap yang siap menadah semua tangkapan Miles. Jadi tak perlu heran jika Miles berhasil mengalahkan ketakutan akan gelapnya malam ataupun bahaya lain yang mungkin mengincarnya. Apalagi saat itu bulan sedang bersinar dengan terang, tangkapannya akan lebih banyak dari biasanya.


Siapa sangka, malam itu yang ditemukannya lebih dari sekedar remis ataupun tiram. Tak tanggung-tanggung, yang dilihat Miles adalah sebuah cumi raksasa yang terdampar. Tak butuh waktu lama sehingga berita itu menyebar ke seluruh warga sekitar. Dari para ilmuan, warga sekitar dan tentu tak ketinggalan para wartawan,dari media cetak sampai televisi, yang selalu haus akan berita-berita semacam ini. Sebagai orang yang menemukannya pertama kali, Miles tak luput dari serbuan pertanyaan – pertanyaan mereka.


Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya seadanya. Ia tak ingin para pemburu berita ataupun seluruh penduduk sekitar bahkan kedua orang tuanya tahu bahwa ia mengetahui dengan sangat baik hampir seluruh mahkluk –makhluk laut yang berkeliaran di teluk kecil itu.Ia tak pernah tahu bahwa begitu kalimat “ Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu pada kita” terucap dari mulutnya, kehidupan anak laki laki berusiua 13 tahun, Miles O’ Malley, berubah. Bahkan beberapa minggu setelah kejadian penemuan cumi-cumi raksasa itu berlangsung.


Buku ini telah lama saya incar. Namun ketika pertama kali terbit, hati saya tak tergerak untuk segera membawanya pulang. Tiga tahun setelah buku ini diterbitkan, saya kembali menemukannya di deretan buku yang diberi diskon 30%. Bahkan begitu menjadi milik saya, tidak serta merta membuka plastik pembungkus dan membacanya. Karena ia harus masuk dalam antrian. Selama itu pula, saya tak pernah tahu bahwa buku ini sangat menarik.


Ceritanya juga menghibur. Terlepas dari banyak makhluk laut dengan sangat detail dan cukup membuat saya bingung seakan membaca satu bab di pelajaran biologi. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak juga tergerak untuk meletakkan buku ini. Adalah pembawaan, ucapan, tingkah Miles sebagai tokoh utama, yang lucu dan cerdas dalam waktu yang bersamaan. Siapa sangka dengan usia semuda itu, Miles mengetahui banyak hal yang belum tentu diketahui oleh anak-anak yang sebaya dengannya. Bukan hal yang mustahil, ketika kegemarannya melahap buku menjadi kunci dibalik semuanya.


Selain tingkah laku Miles, percakapan antar tokoh juga menjadi daya tarik tersendiri di buku ini. Banyak obrolan mereka yang membuat saya tersenyum bahkan nyaris terpingkal-pingkal. Kisah kehidupan pribadi Miles pun jadi satu hal yang layak mendapat perhatian. Diluar dari pengetahuannya yang mendalam tentang laut beserta isinya, ia tetaplah anak-anak.


Andai saja buku ini dilengkapi dengan ilustrasi tentang semua makhluk yang disebut dengan detail oleh Miles, tentu akan menjadikannya menjadi sangat sempurna. Namun bagi para juri, ternyata tanpa ilustrasi sekalipun, buku ini pantas untuk memenangkan Pasific Northwest Bookselless Book Award 2006.

The Adventure of Captain Underpants


The Adventure of Captain Underpants
Judul Indonesia : Petualangan Kapten Kolor
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 128 hal

Kalau menyebut nama George Beard dan Harold Hutchins, setiap murid dan guru di SD Jerome Horwitz pasti langsung teringat dengan dua anak laki laki paling iseng dan konyol. Tak satu pun yang lilos dari pandangan mata mereka. Teman sekelas, pemandu sorak, anggota marching band, para pemain football bahkan guru sekalipin menjadi sasaran keusilan mereka. Sehingga jika terjadi sesuatu dapat dipastikan dua anak laki-laki yang bersahabat sejak kecil itu yang bertanggung jawab. Setidaknya seperti itulah anggapan Mr Krupp, kepala sekolah mereka yang galak.

Tidak ada keinginan terbesar dari Mr Krupp selain menangkap basah kedua anak bandel itu. Apalagi ketika tahu bahwa George dan Harold mulai memperdagangkan komik-komik buatan mereka yang diberi judul Kapten Kolor. Sebenarnya Mr Krupp tidak hanya membenci George dan Harold karena pada dasarnya pria ini memang tak menyukai anak – anak. Teriakan mereka membuatnya gerah.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang. Mr Krupp berhasil memergoki mereka saat keduanya tengah beraksi. George dan Harold tak dapat mengelak, karena semuanya terekan dengan rapi dalam sebuah kaset video. Ternyata Mr Krupp telah menyiapkan beberapa kamera tersembunyi di beberapa tempat.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Mr Krupp pun mulai melancarkan aturan demi aturan. Dengan ancaman akan menyebarkan rekaman itu bila keduanya mangkir. Tidak ada pilihan lain bagi kedua anak itu selain memulai rutinitas baru dengan membersihkan apapu di rumah Mr Krupp, ruang kerjanya di sekolah sampai menghabiskan setumpuk buku yang harus mereka baca setelah pulang sekolah.

Namun bukan George dan Harold jika kehabisan ide. Dengan sebuah cincin hipnotis 3-D yang dipesannya di toko Perhiasan Si Cebol Sok Tahu. Segera setelah benda itu berada di tangan, mereka berhasil membalikan keadaan. Tak hanya berhasil merebut rekaman, namun mereka tak menyia-nyiakan ketika Mr Krupp berada dalam keadaan terhipnotis. Tak ayal, mereka menyuruh Mr Krupp meniru Kapten Kolor, tokoh utama komik buatan mereka. Sayangnya mereka membuat kecerobohan, Mr Krupp yang masih berkostum sang Kapten ternyata kabur keluar sekolah saat mereka lengah. Kenakalan mereka kali ini sungguh mendatangkan masalah yang jauh lebih besar

**
Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi memang punya daya tarik tersendiri. Itu yang membuat saya menyukai buku ini. Kenakalan George dan Harold jadi lebih nyata.

Edgar & Ellen : Nod’s Limbs



Penulis :Charles Ogden

Penerjemah: Gunawan Wijaya

Penerbit: Matahati

Cetakan: I, April 2009

Tebal : 262 hlm



Pet sekarat!. Gigitan Morella ternyata berdampak sangat buruk. Rambut-rambut Pet mulai berjatuhan. Pergerakannya semakin lemah. Sayangnya, balsam sebagai satu-satunya obat penawar tertimbun jauh di dalam tanah berlapis tebal akibat ledakan yang terjadi akibat ketidaksengajaan Edgar.



Tak ada balsam berarti selamat tinggal bagi Pet. Menggali timbunan menjadi satu-satunya cara untuk mencapai sumber balsam. Sayang usaha Edgar dan Ellen tak membuahkan hasil. Timbunan tanah terlalu tebal. Tenaga mereka berdua tak cukup besar untuk menembusnya. Padahal waktu yang tersisa semakin sedikit. Mereka nyaris dibuat putus asa karenanya sampai ketika terdengar kabar ditemukannya surat wasiat August Nod.



Di carikan kertas itu, pendiri kota akan memberikan potongan tubuh patung emas kepada siapa pun yang bisa menemukannya. Potongan tubuh itu terletak di suatu tempat yang hanya diketahui oleh Augustus Nod. Warga kota Nod’s Limbs petunjuk yang yang sangat minim. Tapi itu tak menyurutkan semangat mereka memulai pemburuan. Kesempatan yang bisa membuat semua orang menjadi kaya mendadak ini tak dilewatkan oleh siapa pun termasuk si kembar beracun. Patung emas yang mereka temukan tidak hanya untuk menyelamatkan Pet namun juga rumah mereka.



Edgar dan Ellen harus bergegas karena Pet tak dapat menunggu lebih lama.



~~~

Bukunya lumayan seru. Di buku ini terungkap beberapa rahasia kelam kota Nod’s Limbs, karena beberapa kejutan besar. Belum lagi akhirnya yang menyenangkan. Walau tetap saja masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang tidak terjawab. Buku-buku baru yang berisi petualangan Edgar dan Ellen sebenarnya masih ada beberapa, seperti Hot Air, Frost Bite, Splint Ends bahkan ada Mischief Manual, buku yang menjadikan Edgar dan Ellen sebagai narator. Sayangnya tidak ada kabar dari penerbit Matahati.

The Historian

The Historian

Judul Indonesia: Sang Sejarawan

Penulis: Elizabeth Kostova

Penerjemah: Andang H. Soetopo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Januari 2007

Tebal: 768 hlm



Setelah membiarkan buku ini di rak buku nyaris 2 tahun lamanya, akhirnya beberapa minggu yang lalu saya memutuskan untuk membuka halaman pertamanya. Saya punya alasan kuat mengapa tidak langsung melahapnya begitu buku ini resmi menjadi penguni rak buku. Pertama, masalah ketebalan yang tidak diragukan lagi, belum lagi ditambah buku ini dikemas dalam bentuk hardcover. Kedua, tentu saja masih banyak buku yang lebih tipis lainnya. Namun sampai di halaman terakhir, saya sedikit menyesal kenapa tidak membacanya sejak dulu. Karena buku ini ternyata menarik. hhhmmm...satu pelajaran lagi Don’t Judge the book by its thickness.



Dari judul dan Catatan Untuk Pembaca yang ditulis dibagian awal oleh narator, yang sampai akhir buku ini tak juga disebutkan namanya, buku ini bercerita tentang penelusuran, pencarian sesuatu di masa lalu yang terjadi beratus tahun yang lalu, jauh sebelum ia lahir. Pencarian yang membuatnya berpindah dari satu negara ke negara lain. Membaca dokumen demi dokumen. Selama bertahun – tahun tak terhitung lagi berapa banyak riset dan pengumpulan fakta yang ia lakukan. Semua itu membuat saya semakin penasaran dan bertanya-tanya sejarah dan fakta apa yang dibicarakan oleh sang narator. Karena semua riset ini juga berkaitan dengan pencarian ayahnya dan masa lalunya, bagaimana ayahnya pergi mencari gurunya dan sejarah yang melatar belakangi kehidupannya.

Nampaknya sang narator tidak ingin berlama-lama membuat saya penasaran. Hanya dalam beberapa menit pertanyaan itu terjawab dan hanya dengan tiga kata. Bram Stoker, Dracula.



Karena tiga kata itu juga yang akhirnya membuat saya kembali meninggalkan buku ini. Sebelum tenggelam di buku dengan ketebalan 768 halaman ini saya pikir sebaiknya mengenal sosok Dracula ciptaan Bram Stoker terlebih dahulu. Dari buku itu, yang saya dapatkan adalah sesosok pria penghisap darah dengan kekuatan magis dari Transylvania yang sangat keji dan hanya mengejar para wanita sebagai korbannya.



Ketika akhirnya kembali ke buku ini, sosok Dracula yang saya temui di buku ini jauh berbeda. Yang mengejutkan pria ini ternyata benar- benar ada. Vlad Dracula yang juga dikenal sebagai Vlad si Penyula. Tidak perlu heran mengapa diberikan julukan seperti itu. Karena semasa hidupnya pria ini memang sangat kejam. Tidak tanggung – tanggung ia memerintahkan semua bawahannya untuk mengakhiri hidup setiap orang yang dianggapnya musuh dengan disula. Tak peduli bayi, anak-anak pria ataupun wanita. Hal itu membuat saya bergindik ngeri.



Semua itu ada di catatan- catan sang narator yang juga didapatkannya dari semua cerita, catatan, surat milik ayahnya ataupun buku – buku dari perpustakaan yang dikunjunginya. Yang mengejutkan, semua catatan-catatan itu mengantarnya pada satu hal. Vlad si Penyula masih hidup dan berkeliaran. Kesimpulan itulah yang membuat mereka, para sejarawan, berpacu bersama waktu untuk mencari kebenaran di balik semua misteri ini.



Sehingga tidak mengherankan jika penulusuran yang dilakukan menjadi sangat panjang. Sangat melelahkan memang. Namun saya menikmati setiap perjalanan dari satu negara ke negara lain di benua Eropa. Keindahan setiap kota setidaknya memberi sedikit warna pada pencarian, yang menghabiskan waktu bertahun – tahun, yang sangat gelap dan penuh dengan hal – hal berbahaya.



Terlepas apakah fakta ataupun fiksi, banyak dari catatan-catatan itu yang membingungkan. Bahkan begitu sampai di halaman terakhir, saya masih dibuat pusing dengan hubungan antara Vlad Dracula, Ottoman dan Mehmen II. Mungkin karena saya lebih menyukai cerita tentang masa lalu keluarga sang narator, Paul, ayahnya ataupun kisah sang professor Rossi, guru sekaligus pembimbing ayahnya. Sehingga tidak ada cara lain menulusuri kembali beberapa halaman dan mencari fakta lainnya di Wikipedia. Karena pertanyaan – pertanyaan baru juga muncul ketika semua halaman itu selesai saya lahap.



Terlepas dari beberapa catatan – catanan yang membingungkan, untuk sebuah buku yang menggabungkan fakta, fiksi dan sejarah, buku ini benar-benar menarik.

Model Artis Terseksi

Info Wanita

Galeri Foto Artis

Wanita Idola